"Dispereert niet, onziet uw vijanden niet, want God is met ons"

- Jan Pieterszoon Coen (1587 - 1629)
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2016

Gedung Sabau, Rumah Departement van Ooorlog Hindia Belanda di Bandung

Gedung Sabau di tahun 1920 ketika dijadikan "rumah" bagi Departement van Oorlog

Gedung Sabau di masa kini. Menjadi "rumah" Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi



Masyarakat kota Bandung dan para wisatawan yang berkunjung ke sana tentu tahu tentang gedung yang satu ini. Masih mempertahankan gaya bangunan zaman kolonial Belanda, gedung ini menjadi salah satu aset sejarah di Indonesia yang masih difungsikan. Gedung ini boleh dikatakan sebagai gedung "Pentagon" milik Hindia Belanda. Dahulu Bandung di masa Hindia Belanda adalah "rumah" terakhir bagi pemerintahan sipil dan kegiatan militer sebelum wilayah kepulauan Nusantara diduduki oleh Jepang. 

Belajar dari pengalaman ketika Inggris menduduki Batavia pada tahun 1811, di mana semua pusat pemerintahan dan kegiatan militer dipusatkan di sana, pemerintah Hindia Belanda akhirnya memindahkan semua yang berhubungan dengan pusat dan kegiatan militer ke pedalaman. Kota Bandung pun dipilih sebagi tempat yang tepat. Ketika itu, Bandung dipandang sebagai tempat yang aman dan strategis.

Rabu, 16 Desember 2015

Foto Korps Mariniers di Hindia Belanda (Sebelum Kedatangan Jepang)

Lambang Korps Mariniers


Korps Mariniers di Hindia Belanda, sebagaimana KNIL, juga memiliki tugas untuk mengamankan wilayah Hindia Belanda dari serangan yang datang. Terutama sekali jika serangan itu datang dari luar Hindia Belanda. Namun, Korps Mariniers yang bertugas di Hindia Belanda tidak tergabung dalam KNIL. Korps Mariniers di Hindia Belanda tetap menjadi bagian dari Koninklijk Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda).

Jumat, 11 Desember 2015

Sepeda Untuk KNIL

Poster iklan sepeda Fongers. Sepeda ini menjadi pilihan final bagi petinggi Belanda
untuk digunakan para serdadu KNIL di Hindia Belanda. Sepada ni pun memiliki
reputasi yang baik karena cocok digunakan di Hindia Belanda

Sepeda-sepeda Fongers di Amsterdam, siap untuk diberangkatkan ke Hindia Belanda
dengan tujuan Batavia, 1915



Di masa lalu tepatnya di Hindia Belanda, kebutuhan militer akan sepeda sudah menjadi bagian penting. Sepeda, sebagai salah satu alat transportasi yang digunakan untuk membantu setiap aktifitas selain sepeda motor dan mobil. Apalagi, sepeda di masa itu termasuk alat transportasi yang ramah lingkungan. Meskipun tidak secepat sepeda motor dan mobil, sepeda mampu menjangkau tempat-tempat yang belum tentu dapat dijangkau oleh kedua alat transportasi tersebut.

Sejak masuknya sepeda ke Hindia Belanda, KNIL pun diberikan sepeda untuk menunjang tugas di Hindia Belanda. Ada tiga merek sepeda yang digunakan oleh Belanda unuk keperluan militer ketika itu, yakni Burgers, Fongers, dan Simplex. Istilah Wielrijders Fietsen pun muncul. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan sepeda untuk keperluan KNIL di Hindia Belanda bukan perkara yang mudah karena sempa menimbulkan perdebatan yang alot di kalangan petinggi Belanda.

Minggu, 22 November 2015

Seragam Hijau KNIL Asli Garut

Seragam Grijs-Groen Katoenen Model Jas 1911

Seragam Grijs-Groen Katoenen "Garoet-B"

Para reenactor Belanda mengenakan Grijs-Groen Katoenen "Garoet-B"

Para serdadu KNIL berseragam Garoet-B dalam barisan



KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) meski didirikan oleh Belanda namun ia terpisah dari KL (Koninklik Landmacht/Leger) yang statusnya tentara nasional di Belanda. KNIL didirikan sebagai pasukan pengamanan di wilayah Nederlands Indie atau Hindia Belanda. Mereka yang menjadi serdadu KNIL kebanyakannya adalah orang-orang lokal, meskipun ada juga orang-orang Belanda yang terutama dan bisa mendapatkan pangkat lebih tinggi dibandingkan orang lokal sendiri.

Mengenai urusan seragam, KNIL boleh dikatakan paling hobi mengganti warna seragam. Hal itu dikarenakan pengalaman-pengalaman tempur sebelumnya dalam menghadapi militansi lokal yang mereka hadapi. Komando Angkatan Darat KNIL pun menginisiatifkan pengujian seragam lapangan di tahun 1908. Batalyon Infantri ke-10 di Batavia dipilih sebagai relawan uji coba seragam yang berbeda warna satu dengan lainnya.